Showing posts with label Adat Dayak Kanayatn. Show all posts
Showing posts with label Adat Dayak Kanayatn. Show all posts
Mengupas sejarah Naik Dango

Mengupas sejarah Naik Dango

Sebelumnya saya sudah membuat artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Mandau", dan untuk kali ini saya ingin membahas sejarah naik dango.
Untuk mengetahui sejarah atau awal mula naik dango ini tidak lepas dari mitos yang diwariskan secara turun menurun kepada generasi muda suku dayak, khususnya suku dayak yang ada di pulau Kalimantan. Karena segala sesuatu yang sudah menjadi budaya dari setiap suku pasti memiliki cerita yang menjadi kepercayaan suatu suku, sehingga bisa diadakan setiap tahun.
Untuk itu, sebelum lebih lanjut, saya sebagai admin dari blog ini ingin berbagi cerita mengenai asal usul naik dango tersebut melalui sebuah cerita atau sebuah mitos.
Cerita “Ne’ Baruakng Kulup” atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia Ne’ Baruakng Kulup adalah “kakek Beruang yang belum disunat“ hehe

Cerita ini dimulai dari cerita sejarah atau asal mula padi, berasal dari setangkai padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri seekor burung pipit dan padi itu jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau (ngayo). Karena Ne Jaek ini tadi tidak mendapatkan buruan (ngayo), dia pun memilih untuk pulang hanya dengan membawa setangkai padi, sesampainya dirumah, karena hanya membawa setangkai padi (pada saat itu padi hanya dianggap sebagai rumput biasa), Ne’ Jaek di olok atau di ejek oleh masyarakat setempat.
Tujuan Ne’ Jaek membawa padi tersebut ke rumahnya adalah, dia ingin membudidayakan setangkai padi tersebut, namun usaha Ne’ Jaek mengusik warga. Beberapa warga yang tidak terima dengan usaha Ne Jaek, sehingga menyebabkan Ne Jaek diusir dari kampung tersebut.
Selang beberapa lama setelah diusir, ditengah perjalanannya ia bertemu dengan Jubata, berkenalan sampai menikah dengan Jubata.
Dari hasil perkawinannya dengan Jubata, lahirlah seorang anak yang bernama Ne Baruakng Kulup. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, akhirnya Ne Barukng kulup ini menjadi seorang pemuda yang dewasa. Seiring dengan pertumbuhannya Ne Barukng Kulup ini sering turun ke bumi untuk bermain gasikng / gasing. Karena kebiasaannya ini, akhirnya Ne Barukng Kulup di usir dari gunung bawakng.
Akhirnya dia kawin dengan manusia, Nah.. Ne’ Baruakng Kulup inilah yang akhirnya membawa padi kepada Talino (dalam bahasa Indonesia talino adalah manusia) dan Ne’ Baruakng Kulup ini juga yang telah memperkenalkan beras dan nasi kepada manusia. Sebelum manusia mengenal padi atau beras, yang menjadi makanan pokok manusia di jaman itu ada kulat (jamur).

Nah… itu tadi adalah sebuah cerita singkat manusia mengenal padi dan menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti kulat atau jamur (yang sebelumnya jamur inilah yang menjadi makanan pokok manusia).
Sekarang kita lanjut ke topic utama, yaitu sejarah Naik Dango suku dayak.

Makna Upacara Adat Naik Dango bagi masyarakat Suku Dayak yaitu: 
  • Sebagai rasa ungkapan syukur atas karunia Jubata kepada manusia karena telah memberikan padi sebagai makanan manusia.
  • Sebagai permohonan doa restu kepada Jubata untuk menggunakan padi yang telah disimpan di dango padi, agar padi yang digunakan benar-benar menjadi berkat bagi manusia dan tidak cepat habis.
  • Sebagai upacara penutupan tahun berladang
  • Sebagai sarana untuk bersilahturahmi atau untuk mempererat hubungan persaudaraan.
Selesai juga... Baru saja kita telah membaca artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Naik Dango" semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Terima Kasih


Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin
Prosesi upacara adat kematian suku dayak

Prosesi upacara adat kematian suku dayak

Dayak Kanayatn -  Prosesi upacara adat kematian suku dayakProsesi adat ini mulai dihitung sejak almarhum meninggal sampai pada ke 1000 harinya. Dan tentunya prosesi adat ini yang berkaitan dengan kematian. Dalam upacara adat kematian suku dayak ini terbentuk atau terbagi dalam beberapa prosesi upacara.
Berikut ini adalah prosesi upacara adat suku dayak:
1. Penguburan.
Dalam upacara penguburan ini, warga yang satu kampung dengan almarhum, baik keluarga almarhum maupun tetang dan kerabat almarhum membagikan tugas dengan adil, agar prosesi penguburan berjalan dengan lancar.
Setelah tugas dibagikan, hal pertama yang harus dilakukan untuk beberapa warga adalah memandikan jenasah, mengenakan pakaian pada jenasah (pakaian yang digunakan biasanya serba putih) setelah itu jenasah ditaruh diruang tamu, dalam bahasa dayak istilah ini dinamakan dengan Mangkorah. Sementara beberapa warga lainnya diminta untuk memberitaukan kematian itu kepada keluarga jenasah yang tinggal jauh dari tempat kediaman almarhum. Sebelum beranjak dari rumah alamarhum, warga yang diminta untuk memberitahukan keluarga almarhum harus menggigit paku (dalam bahasa dayak paku ini sebagai pangkaras) sambil mengucapkan "Loe basi karas sumangat”. Kalimat yang diucapkan tersebut menandakan sumangat (jiwa kita) mereka lebih keras dari pada besi, tidak bisa dibujuk atau dirayu (tarere’) oleh roh orang yang telah mati.
Sebagian dari warga yang tinggal satu kampung dengan almarhum bertugas untuk membuat peti jenasah. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan peti jenasah ini biasanya, jika almarhum tidak memiliki bahan misalnya papan, warga setempat menyumbangkan papan mereka untuk dijadikan atau dibuat peti jenasah.
Setelah pembuatan peti jenasah selesai, sambil menunggu keluarga yang tinggal jauh ditempat kediaman almarhum datang, jenasah dimasukan ke dalam peti tersebut. Namun, jenasah yang sudah dimasukan kedalam peti ini tidak boleh dimakamkan terlebih dahulu sampai semua keluarga datang, kecuali pihak yang ada dikediaman almarhum sudah mendapatkan perintah dari keluarga yang tinggal jauh dari tempat tersebut untuk segera menguburkan jenasah. Jika sudah mendapat perintah seperti itu dari keluarga barulah jenasah dimakamkan ditempat yang sudah ditentukan.
Bersamaan dengan waktu mengeluarkan jenasah dari ruang tamu, pihak keluarga biasanya mencuci muka dengan air dari solekng (solekng = bambu yang di isi dengan air), setelah selesai mencuci dengan air yang berisi bambu tersebut kemudian bambu tersebut dihempaskan sampai pecah sambil mengucapkan "mimpi buruk mereka sudah lepas sudah berlalu, ame babadi agi’, badan sudah dibersihkan, segala mimpi buruk seperti gigi tanggal, mimpi melihat matahari, mimpi kehujanan dan sebagainya, semuanya sudah hanyut bersama air dan sudah hancur lebur seperti solekng yang dihempaskan" dan merekapun menghamburkan abu dan arang yang memang sudah disediakan disitu, mengucapkan "segala mimpi buruk sudah terbang jadi abu, dan hangus jadi arang". 
Setelah peti jenasah tiba ditempat pemakaman, masing-masing sibuk dengan pekerjaanya. Dan setelah pemakaman selesai, prosesi adat selanjutnya pangurukang sumangat, dengan melipat daun kemudian dibagikan kepada semua yang hadir dan dijepitkan di telinga, prosesi ini bertujuan agar sumangat (jiwa) tetap terkurung didalam badan kita agar tidak tergoda oleh roh-roh orang yang sudah meninggal mati. Pada prosesi ini salah seorang menigapm (menepuk) tanah pada bagian kepala sambil mengucapkan "Asa’ … dua … talu … ampat … lima … anam … tujuhh, Ian aku nigapm kau sianu’a, aku masatna’ kao … dst"
Prosesi pemakaman sudah selesai, prosesi selanjutnya adalah prosesi saat semua warga maupun pihak keluarga sampai dirumah kediaman. Disebelah tangga atau pintu masuk masuk almarhum, dipasang pula tangga hantu dengan posisi terbalik. Setelah orang-orang yang ikut dalam pemakaman selesai mandi. Langkah selanjutnya pemanggilan sumangat (jiwa) mereka dipanggil dengan membunyikan beliung (bahasa dayaknya: nentekng). Setelah penguburan dan pamanggilan sumangat ini tadi selesai, kemudian semua warga baik yang ikut dalam pemakaman maupun yang tidak ikut dipersilahkan untuk makan dikediaman almarhum, setelah makan selesai diadakan pula Adat bacece’ mati dengan mengeluarkan Adat sepuluh amas.

2. Bacece’ Mati.
Adat bacece’ mati adalah Adat yang harus dikeluarkan sebelum dimulainya pertanyaan mengenai hal ikwal kematian almarhum yang baru selesai dikuburkan.
Bacece’ artinya barenceh yaitu membicarakan yang berkaitan dengan sesuatu dan dalam hal ini tentang kematian.
Adat yang harus dikeluarkan adalah Adat sapuluh amas dan dua buah mangkok masing-masing disertai paku (dalam bahasa dayak: pangkaras, pangkaras ini adalah syarat atau pelengkap adat). Adat bacece’ mati dilaksanakan setelah selesai makan. Pengurus Adat memulai pembicaraan dengan mengatur penyerahan Adat sapuluh amas yaitu : 
  • Dua mangkok diserahkan kepada sapat dinikng (tetangga kiri dan kanan).
  • Satu buah piring diserahkan kepada yang mangkorah (memikul peti).
  • Satu buah piring diserahkan kepada yang bagago’atn (yang menyampaikan kabar kematian kepada keluarga).
  • Satu buah piring diserahkan kepada yang bapapatn, yang membuat peti jenasah.
  • Satu buah piring diserahkan kepada yang batandu (memikul peti).
  • Satu buah piring diserahkan kepada yang batamukng dan badango.
  • Satu buah piring diserahkan pepada yang natak bantal kaintonotn.
Semuanya disertai dengan satu buah paku pangkaras dan masing-masing mereka mengigit pangkaras paku dan walaupun piring tidak diambil, tetapi dianggap sudah diterima. Selesai penyerahan Adat sapuluh amas barulah diadakan pertanyaan oleh pengurus Adat.
Pertanyaan tentang kematian, apakah mati karena jodohnya atau ada hal-hal yang patut dicurigakan asal jangan sambarang gule’ gilabut.
Berikut adalah contoh atau beberapa pertanyaan yang dilakukan dalam prosesi adat:
a. Hal yang berkaitan dengan utang piutang almarhum.
b. Jika suaminya yang meninggal patut ditanyakan keadaan badan si-istri, apakah dalam keadaan haid atau belum.
c. Suami atau istri dari almarhum harus mengeluarkan Adat kalangkah tikar yaitu mata uang ketip ditaruh diatas piring kecil sebagai syarat atau pengakuan bahwa manakala pada suatu ketika ia akan kawin lagi, maka ia harus bermusyawarah dengan pihak ahli waris almarhum.
d. Adat sapuluh amas
Adat sapuluh amas ini diterima oleh waris dua madi’ (saudara/i) ene’ (kakek atau nenek) almarhum.
Kemudian ditanyakan apakah ngalapasatn tahutnnya (pelepasan tahun) akan ditentukan atau dilaksanakan, kalau tidak supaya diadakan Adat barapus agar rohnya tidak mengganggu pertahunan.
e. Muang Ai’ balik.
Ai’ balik terdiri dari piring putih berisi air, ditutup dengan sebuah pengayak beras, dan sebuah sobokng (kulit atau pelepah pinang) berisi abu dapur, ditaruh kepelataratn atau pante (pante biasanya digunakan oleh suku dayak tempat menjemur padi) masuk rumah. Jadi posisinya demikian : dari tanah naik kerumah, ada pasang tanga’ antu, kemudian diatas pante diletakan sobokng abu, kemudian piring yang berisi air ditutup pengayak. Apabila pidaranya (roh almarhum) mau masuk ke dalam rumah melalui tanga’ hantu dia akan menginjak abu, sehingga keesokan harinya bekas kaki dapat dilihat, dan kemudian roh almarhum ini bercermin kedalam air yang ditutup pengayak, dan ketika roh almarhum melihat wajahnya yang sudah tampak berubah dan tidak mulus lagi (pengaruh oleh pengayak), roh almarhum sadar bahwa ia telah meninggal atau berada di alam yang berbeda dengan manusia.
f. Malahi’.
Apabila almarhum meninggal pada tahutn kadapatatn atau ningalatatn tahutn (meninggal sebelum panen padi) maka almarhum diberi bagian khusus, dengan tujuan agar almarhum tidak menggangu sawah atau ladang milik keluarganya.
Balahatn atau bagian yang akan diberikan kepada almarhum ini diletakkan disebelah pinggir sawah atau ladang dekat jalan keluar atau masuk sawah atau ladang.
Tempat belahan dipagar dengan belahan bambu diatasnya digantungkan tudung terinak, topokng pamanih dan sebagainya.
g. Muang Tikar Kubu’ (kubu = selimut).
Namun pada bagian ini, yang dibuang bukan berarti atau bukan cuma tikar dan selimut saja, malainkan apa yang menjadi milik almarhum pada saat almarhum masih hidup.
Upacara Adat ini dilaksanakan setelah tiga hari lamanya almarhum dikuburkan.
Beberapa bekas pakaian, tikar dan perca lainya secara simbolis dapat dianggap sebagai tikar dan Kubu’ (selimut) dibuang disaka (persimpangan) kuburan sehinga hal ini disebut “muangi’ tikar kubu’” Tujuan: agar pidara (roh) almarhum tidak bolak-balik dirumah untuk mencari-cari pakaiannya lagi.
h. Basuayak (berpisah bertolak belakang).
Adat basuayak ialah Adat yang dilaksanakan setelah tujuh hari almaruhum dikuburkan.
Menurut kepercayaan selama tujuh hari itu roh almarhum masih keluar masuk di rumah keluarganya. Agar anggota keluarga tidak tergoda (rohnya tidak ngalimatn, ngarere’) maka diadakan Adat basuayak untuk memisahkanya, dari kehidupan keluarga yang masih hidup.
i. Ngalapasatn Tahutn.
Ngalapastn tahutn adalah suatu upacara Adat yang diadakan setelah tiga tahun almarhum meninggal dunia. Waktu tiga tahun ini biasanya dihitung mulai dari tahun padi. Upacara Adat ini dimaksudkan untuk nipara atau mare’ (memberi) makan almarhum yang terakhir. Kalau upacara Adat ini tidak dilaksanakan maka dikwatirkan rohnya akan gentayangan (Roh almarhum menganggap keluarganya berpaling darinya) mencari makan kesana kemari sehingga merusak panen sawah atau ladang, dan yang menjadi sasaran utama adalah pihak keluarganya .
Dengan demikian makna ngalapasatn tahutn itu dapat diartikan:
  1. Untuk paniparatn (memberi makan) terakhir, memberi ongko’ bagiatn kepadanya agar ia tidak menggangu atau merusak sawah - ladang.
  2. Batas bela sungkawa dan hubungan batin dengan rohnya sudah dianggap selesai (hubungan keterikatan) sebab sebelum masa tiga tahun suami atau istri almarhum yang masih hidup dapat dikenakan sangsi Adat parangkat hantu atau pampalit ai’ mata (Kain yang digunakan untuk lap air mata) jika ia kawin lagi.
  3. Namun demikina bukan berarti hubungan batin itu akan terputus habis sama sekali, adakalanya roh seseorang itu akan tetap dihormati terutama kuburan orang tua yang dan dianggap sebagai biat atau pama sehingga kuburannya ditabo’ (dikunjungi untuk dibersihkan) dan diremah setiap tahun seperti layaknya orang nabo’ panyugu.
j. Sanukng.
Jika seseorng kebetulan meninggal dan dikuburkan ditempat lain karena merantau dan sebagainya sehingga jenasahnya tidak dapat dikuburkan dikampungnya, maka dibuatlah sanukng ditempat atau kampung pakaian. Sanukng ini merupakan duplikat kuburanya yang asli. pakaian bekas, dan tanah yang ada dimakam aslinya kemudian diambil dan dibawa pulang untuk ditempatkan pada sanukng tersebut.
Sanukng itu dibuat menyerupai kuburan diberi dango (sejenis gubuk namun tidak didindingi) dan diberi tambak (nisan) atau jongko:
  1. Jika ia seorang dukun dibuatkan bale gamakng yaitu dari papan dibuat persegi empat dan diukir serta dicat dengan ukiran khusus, yang merupakan tanda bahwa ia seorang dukun.
  2. Jika ia seorang pangalangok jongko’nya dilukis seperti kepala alo.
  3. Jika ia seorang pagalar (Timanggong atau pengurus Adat) maka ia dibuatkan bale’ gamakng.
  4. Jika ia seorang yang kaya, papadiatn maka jongko’nya dibuat diukir seperti papat dango padi.

Selesai...
Sebelum dan sesudahnya, saya ingin meminta maaf kepada para pembaca artikel yang berjudul "Prosesi upacara adat kematian suku dayak" ini. Terutama untuk yang kurang paham atau yang benar-benar tidak tahu bahasa dayak.
Dalam artikel ini, saya terlalu banyak menggunakan bahasa dayak. Karena saya membahas adat dayak, jadi artikel ini saya buat berdasarkan nama yang digunakan dalam bahasa adat juga.
Untuk itu saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya. Selebih dan sekurang-kurangnya, saya ingin kritik dan saran dari teman-teman semua. Dan jika teman-teman tertarik denganartikel ini, silahkan bagikan kepada orang-orang yang ada disekitar teman-teman. Terima Kasih

Makna Naik Dango (Gawai adat dayak)

Makna Naik Dango (Gawai adat dayak)

Pada artikel kali ini saya akan membahas "Makna Naik Dango". Naik Dango atau yang sering dikenal dengan Gawai. ternyata memiliki makna. Apa saja makna yang terkandung di balik kalimat naik dango tersebut?
Jika pada artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Naik Dango" kita telah membahas sejarah-sejarahnya.
Maka artikel yang berjudul "Makna Naik Dango" ini akan saya khususkan untuk membahas makna-makna apa saja nih yang terdapat dari Naik Dango, jika diantara teman-teman ada yang belum tahu makna-maknanya, jangan beranjak dulu, baca artikel ini sampe selesai, like, comments dan share artikel ini, agar teman-teman yang lain juga bisa tahu. ini penting, khususnya untuk generasi muda putra borneo.

Biar gak panjang lebar, kita langsung ke TKP saja ya... Berikut adalah makna Naik Dango.
Naik Dango merupakan salah satu peristiwa budaya Dayak Kanayatn yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Upacara Adat Naik Dango intinya hanya berlangsung satu hari saja tetapi karena juga menampilkan berbagai bentuk budaya tradisional di antaranya berbagai upacara adat, permainan tradisional dan berbagai bentuk kerajinan tangan yang bernuansa tradisional, sehingga acara ini berlangsung selama tujuh hari.
Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Upacara Adat Naik Dango ini, menjadikannya sebagai even yang eksotis ditengah-tengah kesibukan masyarakat Dayak.
Upacara Adat Naik Dango merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) pada tahun 1986. Tiga perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat ucapan syukur kepada Jubata yang dilaksanakan Masyarakat Dayak Kanayatn di Menyuke setiap tahun setelah masa panen padi usai.
Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan Upacara Adat pasca panen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketemanggungan.
Inti dari upacara ini adalah nyangahatn yaitu pelantunan doa atau mantra kepada Jubata, lalu mereka saling mengunjungi rumah tetangga dan kerabatnya dengan suguhan utamanya seperti:
  • Poe / salikat (lemang atau pulut dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu),
  • Tumpi (cucur),
  • Bontonkng (nasi yang dibungkus dengan daun berukuran kecil / sejenis lontong), Bontokng adalah jenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan hasil panen tahunan dan bahan makanan tambahan lainnya.

Adapun untuk Tahap Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

Tahap pelaksanaan upacara Naik Dango yaitu sebagai berikut :
  • Sebelum hari pelaksanaan: Sebelum hari pelaksanaan, terlebih dahulu dilakukan pelantunan mantra (nyangahatn) yang disebut Matik. Hal ini bertujuan untuk memberitahukan dan memohon restu pada Jubata.
  • Saat hari pelaksanaan: Pada hari pelaksanaan dilakukan 3 kali nyangahathn, (1) Di Sami (Bahasa Indonesia: Ruang Tamu), bertujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar datang kembali ke rumah adat. (2) di Baluh/Langko (Bahasa Indonesia: Tempat menyimpan padi atau lumbung padi), bertujuan untuk mengumpulkan semangat padi di tempatnya yaitu di lumbung padi. (3) di Pandarengan, tujuannya yaitu berdoa untuk memberkati beras agar dapat bertahan dan tidak cepat habis.

Selesai... Semoga bermanfaat...
Baru saja kita telah membaca artikel yang berjudul "Makna Naik Dango" semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Terima Kasih

"Adil Ka' Talino. Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata"

Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin

Upacara Adat yang Berkaitan dengan Pertanian

Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai masyarakat petani, orang Dayak Kanayatn memiliki beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian selama satu tahun, yang dkenal dengan adat bahuma batahutn. Menurut aturan adat dikenal sejumlah upacara yang dilakukan pada setiap tahapan pertanian. Tahap-tahap pertanian ini dimulai setiap bulan Juni sampai bulan April. Adapun urutan upacara yang dilakukan adalah sebagai berikut.
Upacara Nabo’ Panyugu Nagari
Sebelum membuka suatu lahan pertanian, pertama-tama seluruh penduduk desa harus meminta ijin bersama-sama dengan cara berdoa di Panyugu (tempat ibadat) ketemenggungan. Agar doa ini terkabul, maka penduduk harus bapantang (menjalankan pantang) selama tiga hari tiga malam. Selama masa bapantang itu masyarakat tidak boleh bekerja, tidak makan daging, pakis, rebung, cendawan, dan keladi. Mereka juga tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor atau umpatan yang dapat menyebabkan bapantang itu gagal.

Upacara Nabo’ Panyugu Tahutn
Upacara ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pertanian dengan sembahyang di Panyugu untuk memohon keselamatan dan berkah yang baik. Hal ini dilakukan karena masyarakat Dayak Kanayatn parcaya bahwa keberhasialan ritual dapat menentukan keberhasilan panen mereka tahun itu.
Upacara Ngawah
Upacara ini dilakukan malam hari untuk mencari tempat yang cocok untuk menanam padi. Pencarian lahan dilakukan dengan cara mengetahui gajala-gejala alam seperti bunyi burung dan binatang yang dapat memberi petunjuk kepada mereka dalam menentukan lahan pertanian. Adapun binatang-binatang itu, seperti kunikng, kalingkoet, tampi’ seak, ada’atn. Jika terdengar bunyi di atas bukit, berarti pertanian di dataran tinggi akan berhasil (ladang), namun bila bunyi berasal dari lembah, maka hal itu merupakan tanda pertanian ladang akan suram. Bila ditemukan bangkai binatang di atas lahan pertanian, menandakan bahwa lahan yang sudah ditentukan itu baik untuk ditanami.

Upacara Mandangar Rasi
Upacara ini dilakukan setelah upacara Ngawah. Upacara ini merupakan tanda bunyi dari alam yang menyatakan baik atau buruk hasil pertanian nanti (pesan rasi). Apabila pesan rasi dianggap baik, maka pekerjaan diteruskan, sebaliknya bila pesan dari rasi tidak baik, maka pekerjaan harus dihentikan.

Kegiatan Ngaratas
Ngaras merupakan kegiatan membuat lajur batas atas lahan pertanian dengan lahan tetangga. Setelah itu barulah bahuma (menebas) hutan sampai dengan selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan agar tidak terjadi pengambilan batas tanah ladang orang lain.

Nabakng
Nabakng adalah upacara menebang pohon setelah kegiatan menebas. Setelah itu dilakukan upacara baremah dengan membuat persembahan untuk Jubata, agar diperbolehkan memakai lahan pertanian atau ladang yang akan digarap. Bila ada pohon besar, maka pohon tersebut tidak ditebang, melainkan hanya dikurangi cabang-cabangnya. Orang Dayak Kanayatn percaya bahwa pohon besar biasanya dihinggapi burung tingkakok atau burung berkat padi yang menjaga dan menimbang buah padi, sehingga pada waktu panen nanti akan mendapat padi yang baik (berisi) dan melimpah.

Ngarangke Raba’
Ngarangke Raba’ adalah upacara mengeringkan tebasan dan tebangan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibakar. Sebelum dibakar dilakukan ngaraki’ yaitu membersihkan daerah sekeliling yang akan dibakar untuk pencegahan merambatnya api secara luas. Upacara ini dilakukan untuk meminta berkah pada roh pelindung sebelum pekerjaan selanjutnya dilaksanakan.

Membuat Solor atau Jaujur
Upacara ini adalah upacara pembuatan tanda batas antara ladang milik sendiri dengan ladang tetangga agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman karena kesalahan pemakaian batas tanah garapan.

Upacara Batanam Padi
Upacara Batanam padi ini terdiri dari:
  • Upacara Ngalabuhan, yakni upacara memulai tanam padi;
  • Upacara Ngamala Lubakng Tugal. Upacara ini dilakukan di sawah atau ladang secara intensif agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, berhasil dan tidak diganggu hama;
  • Upacara Ngiliratn penyakit padi atau menghanyutkan padi-padi bekas gigitan hama maupun binatang ke sungai dengan maksud membuang sial (penyakit).
Upacara Ngabati
Upacara ini dilaksanakan di tengah ladang pada saat hendak panen padi atau saat padi menguning. Upacara ini merupakan permohonan agar padi yang telah menguning tersebut tidak diganggu hama tikus dan agar semua padi berisi, sehingga bila panen tiba hasilnya banyak.

Upacara Naik Dango
Upacara Naik Dango merupakan upacara inti dari beberapa tahapan upacara yang berkaitan dengan panen padi (pesta penen). Upacara ini merupakan upacara syukuran padi yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn setiap setahun sekali pada tanggal 27 April. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap kecamatan di Kabupaten Landak. Upacara ini merupakan upacara besar yang banyak melibatkan masyarakat dan kesenian di dalamnya.
Sumber: Banua dayak

Upacara Adat Dayak yang berkaitan dengan Inisiasi

Sebelumnya saya juga sudah membahas sebuah artikel yang berjudul "Upacara Adat Dayak yang berkaitan dengan Pertanian" Nah untuk kali ini saya akan melanjutkan sambungannya dengan artikel yang berjudul "Upacara Adat Dayak yang berkaitan dengan Inisiasi", namun, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya jika kita memahami salah satu arti kata "inisiasiyang ada dalam judul artikel tersebut terlebih dahulu, agar kita dapat lebih mudah memahami isi artikel yang akan kita baca saat ini.
Berikut adalah penjelasan makna dari kalimat "Inisiasi" menurut Wikipedia Indonesia.


"Inisiasi adalah sebuah peraayan ritus yang menjadi tanda masuk atau diterimanya seseorang didalam sebuah kelompok atau masyarakat. Inisiasi juga menjadi sebuah tanda formal diterima menjadi dewasa didalam sebuah komunitas"

Setelah itu sobat membaca arti kalimat diatas, sekarang saatnya untuk mulai membaca isi artikel yang berjudul "Upacara Adat Dayak yang berkaitan dengan Inisiasi" ini.
Berikut ini adalah upacara Adat Dayak yang berkaitan dengan Inisiasi:
1. Upacara sebelum perkawinan
Biasanya sebelum upacara pernikahan diadakan, terlebih dahulu pihak keluarga melakukan Bahaupm (musyawarah). Pada upacara ini calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan menentukan apakah suami ikut istri atau sebaliknya.

2. Upacara Ngaladakng Buntikng
Upacara ini dilaksanakan di kamar suami istri pada saat hamil 3 bulan. Upacara ini dilakukan dengan maksud menghindari keguguran, terutama saat hamil pertama.

3. Upacara Batalah
Upacara Batatah, yaitu upacara untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir. Upacara ini dilakukan setelah tiga atau tujuh hari kelahiran bayi yang didahului dengan prosesi pemandian bayi. Apabila upacara ini dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran bayi, maka upacara ini harus disertai dengan penyembelihan seekor ayam untuk selamatan. Bila upacara dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disembelih seekor babi untuk perjamuan dan balas jasa yang menolong kelahiran.

4. Upacara Batenek
Batenek adalah upacara melubangi telinga anak perempuan (tindik). Upacara ini dilakukan setelah anak berumur antara dua sampai tiga tahun.

5. Upacara Babalak
Babalak adalah upacara penyunatan anak laki-laki di bawah usia sepuluh tahun. Upacara ini masih tetap dijalankan walaupun orang Dayak masih memegang kuat kepercayaan lama. Dalam upacara ini biasanya disembelih tiga ekor babi dan dua belas ekor ayam. Bagi keluarga yang tidak mampu, perayaannya dapat digabungkan dengan keluarga lain yang mampu, namun harus menyumbang seekor ayam, tiga kilogram beras sunguh (beras biasa), dan tiga kilogram beras pulut (ketan).

6. Upacara Adat Karusakatn.
Karusakatn adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Bagi orang Dayak Kanayatn, orang yang meninggal harus dikuburkan paling lama satu malam setelah meninggal. Upacara kematian ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
  • Upacara adat Basubur, yakni upacara untuk memberi makan orang yang telah meninggal;
  • Upacara Barapus, yaitu upacara yang dilakukan tiga hari setelah pemakaman untuk memberitahukan kepada orang yang meninggal bahwa ia telah meninggal dunia
  • Upacara Malahi, yaitu upacara yang dilakukan di tengah ladang seperti orang yang meninggal itu melakukan sesuatu, seperti mengerjakan ladang atau sedang panen. Pelaksanaan upacara ini bertujuan agar arwah orang yang meninggal tidak mengganggu ladang;
  • Upacara Ngalapasatn tahun mati, yakni upacara untuk melepas arwah orang yang telah meninggal setelah tiga tahun. Jika belum genap tiga tahun, maka keluarga orang yang meninggal harus memberi sesaji setiap ada upacara adat.
Sumber: Banua Dayak

    Upacara Adat Dan Kesenian Dayak Kanyatn

    Upacara Adat Dan Kesenian Dayak Kanyatn

    Masih pada artikel Dayak Kanayatn. Pada artikel kali ini saya ingin membahas tentang upacara adat Dayak Kanayatn yang dimiliki oleh suku dayak kanayatn. Adapun upacara adat tersebut yang akan dibahas dalam artikel kali ini, yaitu:
    • Upacara adat itu sendiri 
    • Upacara adat yang berkaitan dengan kesenian.
    Upacara adat Dayak Kanayatn yang telah saya sampaikan diatas sebenarnya bukan itu saja. Karena masih banyak upacara adat lainnya yang nanti akan kita masukan kedalam sub-sub dari pembagian upacara tersebut. Tujuan saya membagi upacara adat Dayak Kanayatn menjadi dua seperti contoh yang sudah saya sampaikan diatas, hanya bertujuan untuk memperpendek postingan kali ini, cuma itu saja (admin lagi kurang sehat hehe).
    Nah... Adapun untuk pembahasannya, silahkan teman-teman klik judul yang memiliki link hidup diartikel ini.
    Untuk pembahasan yang pertama kita mulai dari upacara Adat, adapun sub yang terdapat dalam upacara adat dayak kanayatn adalah sebagai berikut:


    Kemudian untuk pembahasan yang kedua adalah upacara adat yang berkaitan dengan kesenian, adapun sub-subnya adalah sebagai berikut:
    Upacara adat yang berkaitan dengan kesenian

    Catatan: Klik link diatas, Upacara adat yang berkaitan dengan kesenian sudah dimuat dalam satu artikel yang berjudul "Seni pertunjukan Dayak Kanayatn"
    Selesai. 


    Terima Kasih atas kunjungan teman-teman. Semoga artikel ini bermanfaat.
    "Adil Ka' Talino. Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata"


    Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin

    Lembaga adat suku Dayak

    Lembaga adat suku Dayak

    Suku Dayak merupakan bagian dari masyarakat adat. Masyarakat adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal usul keturunan diatas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial-budayanya diatur oleh hukum adat dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan hidup masyarakatnya.
    Hukum adat Dayak Kanayatn mempunyai satuan wilayah teritorial yang dusebut binua. Binua merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa kampung (dulunya Radakng/Bantang). Masing masing binua punya otonominya sendiri, sehingga komunitas binua yang satu tidak dapat mengintervensi hukum adat di binua lain.
    Setiap binua dipimpin oleh seorang timanggong (kepala desa). Timanggong memiliki jajaran-bawahan yaitu pasirah (pengurus adat) dan pangaraga (pengacara adat).
    Ketiga pilar inilah yang menjadi lembaga adat Dayak Kanayatn