Showing posts with label Dayak Kanayatn. Show all posts
Showing posts with label Dayak Kanayatn. Show all posts
Mengupas sejarah Naik Dango

Mengupas sejarah Naik Dango

Sebelumnya saya sudah membuat artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Mandau", dan untuk kali ini saya ingin membahas sejarah naik dango.
Untuk mengetahui sejarah atau awal mula naik dango ini tidak lepas dari mitos yang diwariskan secara turun menurun kepada generasi muda suku dayak, khususnya suku dayak yang ada di pulau Kalimantan. Karena segala sesuatu yang sudah menjadi budaya dari setiap suku pasti memiliki cerita yang menjadi kepercayaan suatu suku, sehingga bisa diadakan setiap tahun.
Untuk itu, sebelum lebih lanjut, saya sebagai admin dari blog ini ingin berbagi cerita mengenai asal usul naik dango tersebut melalui sebuah cerita atau sebuah mitos.
Cerita “Ne’ Baruakng Kulup” atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia Ne’ Baruakng Kulup adalah “kakek Beruang yang belum disunat“ hehe

Cerita ini dimulai dari cerita sejarah atau asal mula padi, berasal dari setangkai padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri seekor burung pipit dan padi itu jatuh ke tangan Ne Jaek yang sedang mengayau (ngayo). Karena Ne Jaek ini tadi tidak mendapatkan buruan (ngayo), dia pun memilih untuk pulang hanya dengan membawa setangkai padi, sesampainya dirumah, karena hanya membawa setangkai padi (pada saat itu padi hanya dianggap sebagai rumput biasa), Ne’ Jaek di olok atau di ejek oleh masyarakat setempat.
Tujuan Ne’ Jaek membawa padi tersebut ke rumahnya adalah, dia ingin membudidayakan setangkai padi tersebut, namun usaha Ne’ Jaek mengusik warga. Beberapa warga yang tidak terima dengan usaha Ne Jaek, sehingga menyebabkan Ne Jaek diusir dari kampung tersebut.
Selang beberapa lama setelah diusir, ditengah perjalanannya ia bertemu dengan Jubata, berkenalan sampai menikah dengan Jubata.
Dari hasil perkawinannya dengan Jubata, lahirlah seorang anak yang bernama Ne Baruakng Kulup. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, akhirnya Ne Barukng kulup ini menjadi seorang pemuda yang dewasa. Seiring dengan pertumbuhannya Ne Barukng Kulup ini sering turun ke bumi untuk bermain gasikng / gasing. Karena kebiasaannya ini, akhirnya Ne Barukng Kulup di usir dari gunung bawakng.
Akhirnya dia kawin dengan manusia, Nah.. Ne’ Baruakng Kulup inilah yang akhirnya membawa padi kepada Talino (dalam bahasa Indonesia talino adalah manusia) dan Ne’ Baruakng Kulup ini juga yang telah memperkenalkan beras dan nasi kepada manusia. Sebelum manusia mengenal padi atau beras, yang menjadi makanan pokok manusia di jaman itu ada kulat (jamur).

Nah… itu tadi adalah sebuah cerita singkat manusia mengenal padi dan menjadikannya sebagai makanan pokok pengganti kulat atau jamur (yang sebelumnya jamur inilah yang menjadi makanan pokok manusia).
Sekarang kita lanjut ke topic utama, yaitu sejarah Naik Dango suku dayak.

Makna Upacara Adat Naik Dango bagi masyarakat Suku Dayak yaitu: 
  • Sebagai rasa ungkapan syukur atas karunia Jubata kepada manusia karena telah memberikan padi sebagai makanan manusia.
  • Sebagai permohonan doa restu kepada Jubata untuk menggunakan padi yang telah disimpan di dango padi, agar padi yang digunakan benar-benar menjadi berkat bagi manusia dan tidak cepat habis.
  • Sebagai upacara penutupan tahun berladang
  • Sebagai sarana untuk bersilahturahmi atau untuk mempererat hubungan persaudaraan.
Selesai juga... Baru saja kita telah membaca artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Naik Dango" semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Terima Kasih


Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin

Awal mula pakaian adat dayak

Sebagian dari kalian mungkin sudah banyak yang mengetahui sejarah pakaian adat dayak atau awal mula pakaian adat dayak ini. Suku Dayak adalah salah satu suku besar yang ada di Indonesia. Untuk itu, Artikel yang berjudul "Sejarah pakaian  adat suku dayak" ini adalah sebuah artikel yang akan membahas dan mengupas sejarah pakaian adat dayak itu sendiri.
Menurut cerita yang pernah saya alami ketika saya sampai ditanah Jawa, suku Dayak adalah suku yang tinggal di Hutan, banyak teman-teman saya yang menyakan hal itu kepada saya. Terus terang saya jawab "iya". Iya dalam arti bukan orang utan atau sejenisnya hehe. Jawab "iya" karena saya menyadari, tidak sedikit suku dayak yang yang ada di Kalimantan masih tinggal dipelosok, tidak ada listrik, kurangnya transportasi, serta kurangnya sarana untuk menambah informasi masa kini. Umumnya, suku dayak adalah salah satu suku yang masih dekat dengan alam. Sangat beruntung sekali untuk beberapa putra Dayak yang sejak lahir tumbuh dan berkembang dipasar dan di Kota.

Sejarah Kata atau nama Dayak.
Pada awalnya kata Dayak (daya') yang memiliki arti orang-orang yang berasal dari Hulu Sungai atau yang tinggal di bukit. Sebutan ini hanya merupakan sebutan kolektif dari orang-orang yang datang di Pulau Kalimantan atau Pulau Borneo untuk suku Dayak yang sudah diketahui sebagai suku asli yang ada di Pulau Kalimantan atau Pulau Borneo. Dan sebutan dengan istilah "dayak" ini juga pada saat itu hanya ditujukan kepada orang-orang yang non-muslim dan non-melayu yang tinggal di pulau Kalimantan.
Seiring berjalannya waktu istilah Dayak tersebut akhirnya dipakai sebagai identitas yang mempersatukan berbagai sub-suku yang ada di Pulau Kalimantan atau Pulau Borneo itu tadi.

Sejarah pakaian adat dayak 
Beberapa ratus tahun yang lalu masyarakat Dayak sudah menciptakan atau membuat busana. Busana yang telah diciptakan oleh suku dayak pada waktu itu semuanya menggunakan bahan dasar serba kulit kayu. Untuk mendapatkan kulit kayu pada saat itu tidak terlalu sulit, karena Kulit kayu yang akan digunakan untuk pembuatan pakaian adat ini sebenarnya sudah ada di hutan yang ada didaerah tempat tinggal suku dayak tersebut. Kulit kayu ini kemudian ditempa menggunakan pemukul (semacam palu kayu) hingga menjadi lemas seperti kain.

Setelah ditempa berulang kali, hingga kulit kayu dianggap halus, langkah selanjutnya kalit kayu yang sudah ditempa itu tadi kemudian dipotong seukuran yang dibutuhkan untuk pembuatan baju dan celana.

Pada waktu itu, model yang digunakan untuk pembuatan pakaian (yang saat ini sudah menjadi pakaian adat) sangatlah sederhana dan semata mata hanya untuk menutupi badan. Model bajunya hanya berupa rompi dan untuk model celananya hanya berupa cawat (celana dalam). Untuk warna, hanya berupa warna asli dari kulit kayu yang digunakan (warna coklat / warna kulit kayu yang sudah dikeringkan).
Jaman terus berubah, cara berdandanpun semakin maju, dari alamiah menuju dunia yang penuh warna. Seiring dengan berjalannya waktu, yang tadinya hanya menggunakan baju dan celana, masyarakat dayak memiliki hasrat untuk melengkapi penampilan mereka pada saat itu, sehingga mereka menciptakan beberapa aksesories berupa pengikat kepala, kalung (Bahan: biji-bijian, kulit kerang, gigi dan taring binatang) dan gelang (Bahan: Tulang binatang hasil buruan), sampai dengan tatto. Lagi-lagi bahan yang digunakan untuk pembuatan aksesories adalah bahan yang diambil dari alam.
Kesederhanaan pakaian kulit kayu itu kemudian memancarkan esensi keindahan karena imbuhan warna warni flora dan fauna yang ditambahkan sebagai pelengkap busana.
Pada perkembangan selanjutnya masyarakat Dayak pun mulai membubuhkan warna dan corak hias pada busana mereka. Bahan pewarna itu secara kreatif diolah dari alam sekitar.
Misalnya: warna hitam dari jelaga, warna putih dari tanah putih dicampur air, warna kuning dari kunyit dan warna merah dari buah rotan. Corak hias yang digambarkan pada busana juga diilhami oleh apa yang dilihat di alam sekelilingnya. Maka tampillah bentuk flora dan fauna, bunga, dedaunan, akar pohon, burung, harimau akar, dan sebagainya yang menjadi corak hiasan pakaian adat dayak.



Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin
Makna Naik Dango (Gawai adat dayak)

Makna Naik Dango (Gawai adat dayak)

Pada artikel kali ini saya akan membahas "Makna Naik Dango". Naik Dango atau yang sering dikenal dengan Gawai. ternyata memiliki makna. Apa saja makna yang terkandung di balik kalimat naik dango tersebut?
Jika pada artikel yang berjudul "Mengupas sejarah Naik Dango" kita telah membahas sejarah-sejarahnya.
Maka artikel yang berjudul "Makna Naik Dango" ini akan saya khususkan untuk membahas makna-makna apa saja nih yang terdapat dari Naik Dango, jika diantara teman-teman ada yang belum tahu makna-maknanya, jangan beranjak dulu, baca artikel ini sampe selesai, like, comments dan share artikel ini, agar teman-teman yang lain juga bisa tahu. ini penting, khususnya untuk generasi muda putra borneo.

Biar gak panjang lebar, kita langsung ke TKP saja ya... Berikut adalah makna Naik Dango.
Naik Dango merupakan salah satu peristiwa budaya Dayak Kanayatn yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Upacara Adat Naik Dango intinya hanya berlangsung satu hari saja tetapi karena juga menampilkan berbagai bentuk budaya tradisional di antaranya berbagai upacara adat, permainan tradisional dan berbagai bentuk kerajinan tangan yang bernuansa tradisional, sehingga acara ini berlangsung selama tujuh hari.
Penyajian berbagai unsur tradisional, selama Upacara Adat Naik Dango ini, menjadikannya sebagai even yang eksotis ditengah-tengah kesibukan masyarakat Dayak.
Upacara Adat Naik Dango merupakan perkembangan lebih lanjut dari acara pergelaran kesenian Dayak yang diselenggarakan oleh Sekretariat Bersama Kesenian Dayak (SEKBERKESDA) pada tahun 1986. Tiga perkembangan tersebut kuat dipengaruhi oleh semangat ucapan syukur kepada Jubata yang dilaksanakan Masyarakat Dayak Kanayatn di Menyuke setiap tahun setelah masa panen padi usai.
Dalam bentuknya yang tradisional, pelaksanaan Upacara Adat pasca panen ini dibatasi di wilayah kampung atau ketemanggungan.
Inti dari upacara ini adalah nyangahatn yaitu pelantunan doa atau mantra kepada Jubata, lalu mereka saling mengunjungi rumah tetangga dan kerabatnya dengan suguhan utamanya seperti:
  • Poe / salikat (lemang atau pulut dari beras ketan yang dimasak di dalam bambu),
  • Tumpi (cucur),
  • Bontonkng (nasi yang dibungkus dengan daun berukuran kecil / sejenis lontong), Bontokng adalah jenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan hasil panen tahunan dan bahan makanan tambahan lainnya.

Adapun untuk Tahap Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

Tahap pelaksanaan upacara Naik Dango yaitu sebagai berikut :
  • Sebelum hari pelaksanaan: Sebelum hari pelaksanaan, terlebih dahulu dilakukan pelantunan mantra (nyangahatn) yang disebut Matik. Hal ini bertujuan untuk memberitahukan dan memohon restu pada Jubata.
  • Saat hari pelaksanaan: Pada hari pelaksanaan dilakukan 3 kali nyangahathn, (1) Di Sami (Bahasa Indonesia: Ruang Tamu), bertujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar datang kembali ke rumah adat. (2) di Baluh/Langko (Bahasa Indonesia: Tempat menyimpan padi atau lumbung padi), bertujuan untuk mengumpulkan semangat padi di tempatnya yaitu di lumbung padi. (3) di Pandarengan, tujuannya yaitu berdoa untuk memberkati beras agar dapat bertahan dan tidak cepat habis.

Selesai... Semoga bermanfaat...
Baru saja kita telah membaca artikel yang berjudul "Makna Naik Dango" semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Terima Kasih

"Adil Ka' Talino. Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata"

Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin

Mengupas sejarah dan bagian-bagian Mandau

http://berbagi-cerita9.blogspot.co.id/2015/12/mengupas-sejarah-dan-bagian-bagian.html
Mandau adalah senjata khas suku dayak yang ada dipulau Kalimantan.
Sedikit tentang pulau Kalimantan, Pulau Kalimantan adalah sebuah pulau terbesar dari 5 pulau yang ada di Indonesia (Kalimantan, Sumatra, Papua, Sulawesi dan Pulau Jawa). Dan pulau Kalimantan juga adalah salah satu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greendland dan Papua Nugini. Salah satu suku yang ada di Kalimantan adalah suku Dayak, Melayu, dan suku-suku lainnya.
Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa setiap suku pasti memiliki salah satu benda atau barang yang menjadi ciri khas suku tersebut. Nah untuk artikel kali ini saya ingin membahas senjata khas suku dayak, yaitu Mandau.
Pada Jaman dahulu, didalam kehidupan sehari-hari suku dayak senjata ini (mandau) tidak pernah lepas dari pemiliknya (Selalu ada Mandau saat bepergian). Pada jaman dahulu juga, Mandau adalah simbol seseorang (kehormatan dan jati diri seseorang).
Sedikit tentang Mandau, Kisah ini bersumber dari orang-orang yang pernah dihidup dijaman ngayo, yang diturunkan kepada beberapa generasi muda sebagai cerita rakyat suku dayak yang belum dipublikasikan secara deatil, bagaimana asal usul ngayo tersebut.
Mandau Jaman dahulu atau Mandau yang ada di jaman nenek moyang. Mandau yang ada dijaman nenek moyang ini adalah Mandau yang tidak boleh dipegang atau disentuh oleh sembarang orang, tidak boleh dijabut disembarang tempat. Mandau jaman dahulu hanya bisa digunakan pada ritual-ritual yang ada dalam cerita dibawah ini:
“Mandau memiliki unsur magis dan hanya digunakan dalam acara ritual tertentu seperti: Perang, Pengayauan (Ngayo), Perlengkapan tarian adat, dan Perlengkapan upacara adat lainnya. Tingkat kampuhan atau kesaktian Mandau tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya (yang melalui ritual-ritual), tetapi juga dapat kita lihat dari hasil Ngayo (Pemenggalan Kepala). Semakin banyak orang yang menjadi korban dari sebuah Mandau tersebut, maka keampuhan dan kesaktian Mandau semakin bertambah.
Ciri khas Mandau yang sudah digunakan untuk ngayo biasanya gagang Mandau terdapat beberapa helai rambut (rambut orang yang menjadi korban) yang digunakan untuk penghias gagang mandau. Alasan gagang Mandau dihiasi dengan rambut korbannya: dipercaya bahwa orang yang mati karena Mandau tersebut rohnya akan mendiami mandau”

Mandau jaman sekarang atau Mandau yang dibuat dengan besi murni tanpa menggunakan campuran dari mantera dan ritual ngayo.
Mandau yang kita kenal saat ini adalah Mandau biasa, layaknya sebuah parang atau golok. Kenapa saya berpendapat demikian, jika dibandingkan dengan kisah yang sudah saya paparkan diatas, bahwa fungsi Mandau saat ini sudah berubah. Diantaranya adalah sebagai benda seni, cinderamata, barang koleksi, bahkan digunakan sebagai alat bertani dan juga sebagai alat untuk memangkas semak belukar. Keampuhan dan cirri khas Mandau jaman dahulu sudah hamper tidak terlihat lagi.
Itu tadi adalah sedikit cerita tentang Mandau, sekarang kita akan mengupas bagian-bagian Mandau.

1. Bilah Mandau.
Ciri-ciri pada bilah mandau:
  • Berbentuk pipih-panjang seperti parang dan berujung runcing (menyerupai paruh yang bagian atasnya berlekuk datar).
  • Memiliki dua sisi, salah satu sisi diasah tajam, dan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul.
Jenis atau bahan yang digunakan:
  • Besi montallat
  • Besi matikei, dan
  • Besi baja (biasanya diambil dari sisa per mobil)
  • Bilah gergaji mesin
  • Cakram kendaraan, dan lain sebagainya.
Konon, mandau yang paling baik mutunya adalah mandau yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi atau ditambah dengan campuran emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.
Pembuatan bilah mandau diawali dengan cara membuat bara api (menggunakan kayu ulin, agar dapat menghasilkan panas yang lebih stabil) di dalam sebuah tungku untuk memuaikan besi.
Proses menempa, Untuk mendapatkan keindahan dan kerapian bentuk mandau, Proses penempaan harus dilakukan secara berulang-ulang sampai mendapatkan bentuk bilah mandau yang sangat rapi.
Setelah bilah terbentuk, tahap selanjutnya adalah membuat hiasan berupa lekukan dan gerigi pada mata mandau serta lubang-lubang pada bilah mandau.
Pada zaman dahulu banyaknya jumlah lubang pada sebuah mandau mewakili banyaknya korban yang pernah kena tebas mandau tersebut.
Cara membuat hiasan pada mandau sama persis dengan cara membuat bilah mandau, yaitu dengan cara memuaikan dan menempanya dengan cara berulang-ulang. Setelah itu, barulah bilah mandau dihaluskan dengan menggunakan gerinda.

2. Gagang (Hulu Mandau)

Gagang (hulu mandau) terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung.

Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti:

  • Kepala naga
  • Paruh burung
  • Pilin, dan 
  • Kait.
Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang (Mandau Biasa) atau rambut manusia (mandau yang pernah digunakan untuk membunuh manusia).

Dalam bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini adalah bagian yang dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku yang menggunakannya, serta status sosial pemilik mandau tersebut.


3. Sarung Mandau.
Sarung mandau biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis.
Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat.
Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.
Nilai budaya yang terkanduang dalam pembuatan mandau:
  • Keindahan: Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan
  • Ketekunan, Ketelitian, dan Kesabaran: Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna.


Sekian artikel saya yang berjudul: "Mengupas sejarah dan bagian-bagian Mandau" Terima Kasih.
Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran. Kritik dan Saran dari teman-teman adalah sebuah dukungan untuk admin

Seni tari dan seni musik Dayak Kanayatn

Dari berbagai macam adat dan kesenian budaya yang ada di Indonesia ini, Pada artikel kali ini saya ingin membahas tentang "Seni pertunjukan Dayak Kanayatn".
sebelumnya, saya telah membahas "seni rupa dayak kanayatn" Dan pada artikel kali ini, saya sudah menyiapkan atau menyajikan beberapa seni pertunjukan yang berasal dari suku dayak kanayatn, Kalimantan Barat, yakni  Seni tari dan Seni Musik.
Kita langsung ke TKP saja ya mas bro, berikut adalah kesenian yang dimiliki oleh suku dayak kanayatn. Selamat Membaca ....
Seni Tari
Seni tari Dayak Kanayatn umumnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tari untuk upacara ritual dan tarian kesenian.
Perbedaan yang mendasar dari kedua bentuk kesenian itu teletak pada proses penggunaannya, sebagai tarian ritual khusus dibawakan pada upacara ritual.
Tarian tersebut dianggap sakral dan harus digunakan pada tempatnya. Tarian kesenian tradisi, walaupun terkadang sama-sama diperuntukan dalam konteks upacara, namun hanya sebagai hiburan yang dibawakan sesudah upacara inti selesai dan dapat digunakan dalam konteks lain.
Ada beberapa jenis tarian upacara ritual dalam masyarakat Dayak Kanayatn, antara lain tari Amboyo, tari Totokng, tari Baliatn. Tari Amboyo adalah tari yang digunakan pada upacara Naik Dango, yaitu upacara syukuran padi atau pesta panen.
Tari Totokng adalah tarian yang digunakan pada upacara Notokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan. Upacara ini dilakukan untuk membuang sangar atau dosa bekas pekerjaan mengayau (berburu untuk memotong kepala) jaman dahulu, dan memohon agar selalu diberikan keselamatan.
Tari Baliatn adalah tarian yang digunakan dalam upacara Baliatn. Semua tarian yang dibawakan dalam upacara itu senantiasa diiringi irama musik Dayak Kanayatn. Penggunaan musik dan tarian tersebut disesuaikan dengan upacara, sehingga masyarakat Dayak Kanayatn banyak mempunyai jenis tarian dan musik yang terkait erat dengan upacara.

Seni Musik
Musik tradisional bagi masyarakat Dayak Kanayatn merupakan salah satu aspek kebudayaan yang memiliki bentuk dan ciri khas dari setiap kelompok.
Meskipun demikian, hampir semua kelompok mempunyai ciri-ciri dasar yang hampir sama antara satu dengan lainnya. Musik itu pada umumnya ditampilkan sebagai bagian upacara besar dalam siklus kehidupan dan peringatan waktu tertentu. Disamping itu digunakan pula sebagai hiburan, seperti dalam kesenian Jonggan.
Irama musik Dayak Kanayatn tergolong musik yang sangat fleksibel, sehingga dapat digunakan dalam upacara atau untuk mengiringi kesenian lain sebagai hiburan, seperti iringan tari, teater daerah, dan bentuk sajian tunggal (komposisi). Adapun jenis-jenis irama musik Kanayatn adalah sebagai berikut:
  • Irama Musik Bagu. Irama musik ini diciptakan oleh Abakng Nyawatn. Menurut tradisi lisan proses penciptaannya terinspirasi dari tujuh riam yang terdapat di sungai Bagu, sehingga musik tersebut dianggap sebagai replika bunyi dari ketujuh riam tersebut. Irama musik ini dibagi menjadi 7 bagian, yaitu Bagu, Samoko Lajakng, Samoko Batimang, Samoko Bagantung, Samoko Tapang, Taredek, dan Marense’. 
  • Irama Musik Jubata. Irama musik Jubata dicipatakan oleh seorang Pamaliat (dukun) yang bernama Ne’ Ape’ Mantohari. Irama musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Jubata Lajakng atau Jubata Manta’, Jubata Masak, Jubata Bagael atau Jubata Babulakng, Pate Mangkok atau Jubata Pulakng. 
  • Irama Musik Totokng. Pencipta irama musik Totokng adalah Samine Nak Janyahakng Tatek. Menurut cerita lisan beliau diajari langsung oleh roh halus bernama Kamang Mantekng. Irama musik ini dibagi menjadi enam bagian, yaitu Totokng Maniamas, Totokng Palanteatn, Totokng We’ Ongan, Totokng Binalu, Ledang Lajakng, dan Ledang Panyaot. 
  • Irama Musik Bawakng. Irama Bawakng berasal dari Ne’ Saruna Nak Ujatn Jantu’. Menurut cerita beliau mendapatkan pengetahuan tentang irama musik tersebut dari Ne’ Nyala’ Nang Nukukng Pajaji. Musik ini dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu Bawakng Lajakng, Bawakng Samoko, Bawakng Nyangkodo, Bawakng Joragan, Bawakng Kadedeng, Bawakng pulo atau Bawakng Panca, dan Bawakng Baramutn. 
  • Irama Musik Dendo. Irama musik ini berasal dari Ne’ Dara Enokng. Ia memperoleh pengetahuan irama musik tersebut dari Sinede Pamalitn Pujut. Irama musik ini dibagi mejadi tiga bagian, yaitu Dendo 1, Dendo 2, Dendo 3.
  • Irama Musik Panyinggon. Irama musik ini diperkenalkan oleh Ne’ Rendeng yang dipelajari langsung dari Sijore Pamaliatn Mawing. Musik ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Panyinggon, Kaldoleng, Gundali, Denayu. 
  • Irama Musik Sipanyakng Kuku. Irama musik Sipanyakng Kuku diciptakan oleh Ne’ Tumas yang dipelajari dari Oera Pamaliatn Buntianak. Musik ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Sipanyakng Kuku, Dara Enek, dan Sigurinti. 
  • Irama Musik Ngaranto. Irama musik ini diciptakan oleh Dayakng Dadompa yang dipelajarinya langsung dari Bang Kire Pamaliatn Subayatn. Irama musik ini dibagi menjadi sembilan belas bagian, yaitu Singkaluma’, Patabakng Urakng Mati, Guruh Ari atau Ola’ Oleh, Anyut-anyut Titisawa, Gora’-Gora’, Jaja’ Nyango, Ne’ Nange, Titi Bajoa, Batakng Singunang, Tingkakok, Saka Barime, Rumah Ne’ Jule, Rangkat Tabu, Sare Andang, Soka’ Soke, Ranto Padakng, Rindu’ Ati, Burukng Bapuput, dan Danakng Liokng.
  • Irama musik Dayak Kanayatn merupakan tabuhan pokok yang banyak digunakan sebagai iringan tari dalam ritual perdukunan dan ansambel kesenian Jonggan. Selain tabuhan tersebut terdapat pola tabuhan Melok untuk mengiringi tarian pencak (silat) dalam upacara Pangka’, kemudian tabuhan Amboyo yang digunakan dalam upacara Naik Dango.
Kritik & Saran Anda: Sematkan di kolom komentar

Tradisi Lisan dan Adat Dayak Kanayatn

Tradisi lisan Dayak Kanayatn sama halnya dengan adat yang berlaku dalam kehidupan mereka. Adat ini meliputi seluruh aspek kehidupan dan berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Ia mengatur kehidupan masyarakat dalam berinteraksi.
Ketika masyarakat Dayak Kanayatn melanggar hukum adat, mereka sangat malu ketimbang
mereka melanggar peraturan pemerintah.
Hal ini karena adat merupakan peraturan warisan nenek moyang yang bersifat universal dan mengikat. Tidak menghormati adat dianggap “tidak beradat”. Bila masyarakat Dayak Kanayatn tidak beradat, maka dapat disamakan bukan orang Dayak. Hal seperti inilah yang menyebabkan tradisi lisan dan adat sangat dihormati, serta dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakatnya. Tradisi lisan Dayak Kanayatn terkait erat dengan upacara.
Semua tata pergaulan, perilaku dan upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn diatur oleh adat dan adanya sangsi bagi setiap pelanggaran. Melalui adat ini pula semua bentuk upacara dan musik dalam upacara dapat terjaga kelestariannya. Artinya adat atau tradisi lisan Dayak Kanayatn mengharuskan adanya upacara, sedangkan upacara berkaitan erat dengan musik sebagai bagian upacara.
Tradisi lisan masyarakat Dayak Kanayatn merupakan bagian dari mitos yang berhubungan dengan kepercayaan. Mitos-mitos ini menerangkan suatu kejadian yang suci atau suatu peristiwa yang dialami nenek moyang jaman dahulu. Masa purba merupakan masa yang suci dan pada waktu itu masih terjadi pertemuan dengan Ilahi. Keseluruhan mitos ini menjadi dasar tingkah laku untuk mendukung stabilitas pergaulan di masyarakat.
Masyarakat sangat menghormati mitos, karena adat lahir dari mitos tersebut. Oleh karena itu wajar saja bila sebagian orang menganggap mitos sebagai kitab sucinya masyarakat Dayak Kanayatn, bahkan bagi seluruh masyarakat Dayak di Kalimantan.
Tradisi lisan Dayak Kanayatn terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang bercorak cerita, seperti cerita rakyat, legenda, epik, dan yang bercorak bukan cerita, seperti ungkapan, nyanyian puisi lisan, peraturan dan upacara adat.

Adapun tradisi lisan tersebut adalah sebagai berikut.
Bercorak Cerita
  • Singara, jenis cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat, seperti cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang dan cerita percintaan.
  • Gesah, adalah cerita yang berhubungan dengan agama lama atau agama asli dan asal usul kehidupan. Contohnya cerita pahlawan, asal usul dunia, kehidupan, manusia, asal usul padi dan bercocok tanam (berladang), dan lain sebagainya.
  • Osolatn, yaitu kisah asal usul keturunan (jujuhatn) atau tentang silsilah keturunan suatu keluarga yang dapat dilacak lewat cerita tersebut. Contohnya seperti Osolatn atau jujuhatn Bukit Talaga.
  • Batimakng, yaitu kegiatan yang bersifat hiburan atau bujukan orang tua untuk anak-anak. Biasanya dibawakan pada waktu senggang atau saat mau tidur, seperti pepatah, pantun atau lagu (lagu pengantar tidur).
  • Pantutn, yaitu cerita berbentuk puisi yang berisi nasehat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun ini banyak dibawakan dalam lagu-lagu Jonggan
  • Sungkalatn atau sungkaatn, yaitu cerita berbentuk perumpamaan atau pepatah tentang peringatan, penjelasan dan nasehat.
  • Salong, yaitu cerita dalam bentuk sindiran tentang suatu kebiasaan atau perilaku yang kurang baik mengenai pergaulan dalam masyarakat.

Bercorak Bukan Cerita
  • Sampore’, yaitu upacara yang berhubungan dengan rehabilitasi hubungan yang pernah cacat atau selisih, seperti dalam upacara perobatan Lenggang, Liatn, Dendo, Babuis (karena jukat atau roh halus yang mengganggu), Bapipis dan Batapukng Tawar.
  • Lala’, adalah semacam pantang atau larangan bagi masyarakat Kanayatn untuk makan makanan jenis tertentu, melakukan perkerjaan tertentu. Sebagai contoh bapantang sehabis mengadakan upacara ka’ Panyugu yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn di sekitar Bukit Talaga.
  • Tanung, yaitu menentukan jenis perbuatan untuk mencari cara terbaik sebelum melakukan sesuatu dalam keadaan mendesak, seperti keadaan gawat, perang dan lain sebagainya. Tanung ini terbagi menjadi 5 macam, yaitu Tanung Ai’, Tanung Tali, Tanung Karake’, Tanung Sarakng Pinang, dan Tanung Dapa’ Layakng.
  • Baremah, yaitu permohonan penutup dalam suatu upacara atau sebagai tanda syukur atas hasil pekerjaan, seperti upacara pasca panen.
  • Renyah, yaitu sejenis pantun yang dilagukan yang biasanya berisi nasehat, sindiran, dan pesan yang terkait dengan kehidupan. Renyah biasanya dituturkan saat ke ladang, kebun dan hutan.
  • Bacece’, yaitu perundingan para tokoh kampung, sanak keluarga, kerabat sekampung mengenai budi, hutang orang yang telah meninggal.
  • Pangka’, yaitu upacara untuk memperingati Ne’ Baruakng sewaktu turun ke bumi membawa padi dan mengajarkan tradisi berladang kepada manusia.
  • Mura’atn, yaitu melakukan doa secara pribadi agar tidak ditimpa malapetaka.
  • Liatn, yaitu upacara ritual yang bersifat magis dan sakral dalam bentuk tarian dan doa atau vokal mantra (mantra yang dinyanyikan). Tujuannya pelaksanaan upacara ini tergantung dari orang atau keluarga yang melaksanakan, seperti berobat, mayar niat (membayar niat), ngangkat paridup (mengharap kehidupan yang lebih baik), dan lain sebagainya.
  • Mulo, yaitu pengucilan bagi orang yang melanggar adat istiadat dalam suatu masyarakat adat.
  • Gawe atau Gawai, yaitu upacara syukur atas apa yang telah diberikan Jubata atau menandai awal suatu kehidupan baru, seperti Gawe pasca panen, Gawe Balak (awal masa remaja), dan Gawe Penganten (menempuh hidup baru dalam berkeluarga).
  • Totokng, yaitu upacara penghormatan kepada kepala kayauan (kepala hasil mangayau) agar jangan sampai terkena kutuk kepala tersebut. Upacara ini dapat pula dikatakan untuk membuang sangar (dosa) atas kesalahan yang dilakukan saat Mangayau (memotong kepala) zaman dahulu.
  • Nyangahatn, yaitu upacara sembahyang atau berdoa menurut agama asli orang Dayak Kanayatn. Nyangahatn biasanya dilakukan sebelum melakukan sesuatu atau pada awal melakukan suatu upacara agar selamat dan terhindar dari gangguan makhluk halus. Nyangahatn juga digunakan untuk memanggil roh halus yang akan dimintai bantuannya dalam ritual pengobatan tradisional, seperti pengobatan dalam upacara liatn.
  • Dendo dan Lenggang, yaitu ritual perdukunan tradisi Dayak Kanayatn yang bersifat magis dan mendapat pengaruh budaya Melayu dan Cina. Tujuan upacara ini biasanya menyesuaikan niat orang atau keluarga yang melaksanakan upacara tersebut.
Sumber: Banua Dayak